Awas ! 25% Penduduk Mengalami Gangguan Kejiwaan !

October 21st, 2008 by loveray

Bangsa Yang Sakit(?)

(ray Asmoro)

Dalam keseharian Sariman seringkali marah-marah. Emosinya meluap-luap. Seperti air laut yang luber menggenangi daerah Penjaringan Jakarta Utara kemarin (10/10/2008). Istri Sariman cemas terhadap perubahan emosi suaminya itu. Sebelumnya ia sangat santun dan penyabar. Tetapi entah kenapa kini ia berubah.\


Belum ada yang memastikan penyebab perubahan emosi Sariman itu. Namun demikian mari coba kita amati, siapa tahu kita bisa sedikit mengurai simpul permasalahannya. Secara ekonomi, Sariman bukan termasuk orang yang kekurangan. Penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya, bahkan ada sebagian yang bisa ditabung setiap bulannya. Ia bekerja. Pekerja keras. Jam 6 pagi ia berangkat dari rumahnya, lantaran jarak dari rumah ke kantor harus ia tempuh selama hampir 2 jam. Jika mengukur jarak seharusnya bisa sampai dalam waktu 45 menit saja, tapi inilah Jakarta, matematika tak berlaku disini!


Saban hari ia harus memacu motornya melintasi jalanan Jakarta yang padat dan penat. 2 jam perjalanan itu sudah sangat menyita energi bahkan emosi. Maklum karena tidak ada namanya ketertiban dalam kamus lalu lintas disini. Semuanya sradak-sruduk. Sampai kantor ia sudah dalam keadaan cukup letih fisik maupun emosi. Kemudian ia harus bergelut dengan rutinitas kantor. Menyiapkan ini-itu, beradu argumen dengan teman sekerja bahkan dengan atasan, belum lagi ada intrik-intrik tertentu di dalam perusahaan yang memaksa ia untuk membuat strategi-strategi untuk tidak terdepak dari perusahaan itu. Banyaknya pekerjaan kadang memaksa ia untuk lembur. Jakarta harus disikapi seperti itu untuk bisa bertahan hidup, katanya suatu ketika.


Selepas jam kantor, masih menyisakan tugas-tugas yang harus diselesaikan, ia tumpuk itu dalam kepalanya yang sedikit peang. Lalu ia pun harus menyeberangi waktu 2 jam dijalanan lagi menuju rumahnya. 2 jam yang melelahkan setelah 8 jam di kantor yang juga melelahkan. Jadi total ada 12 jam yang melelahkan fisik maupun emosi, diluar rumah.


Di rumah, malam ia tidak bisa langsung tidur. Anaknya butuh perhatian juga. Lebih-lebih istrinya yang suka bercerita bahwa tetangga ini sudah punya ini, tetangga itu sudah punya itu, kita kapan punya? Kita kapan punya? Kata istrinya. Walaupun punya tabungan, toh Sariman harus berpikir agak lebih jauh, misalnya bagaimana mempersiapkan pendidikan bagi anaknya. Dan sebelum tidur, ia harus memeriksa pekerjaan kantor yang tadi ia simpan dikepalanya. Jam 12 malam atau kadang lebih, ia baru bisa memejamkan mata. Jam 5 pagi ia sudah harus bangun untuk persiapan kerja lagi. Rutinitas sehari-hari yang melelahkan fisik maupun emosi.


Itu baru persoalan internal. Belum lagi persoalan eksternal yang membuat Sariman harus melipatgandakan energi dan emosinya untuk menyikapinya. Misalnya tentang kanikan harga-harga kebutuhan pokok, kenaikan harga BBM, gas yang seringkali langka dipasaran, hiruk-pikuk politik yang memuakkan, di koran saban hari hanya ada berita-berita negatif tentang korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, maling, ketidakberesan birokrasi dan sebagainya. Semua itu semakin menambah ruwet sirkuit diotaknya. Semuanya tumpang-tindih dikepalanya, menyesak didadanya.


Kemudian yang tak kalah seru, bagaimanapun Sariman memiliki obsesi, walaupun tidak muluk-muluk yang ia punya. Ia hanya ingin kehidupan yang lebih sejahtera, lebih mapan, ada jaminan bagi pendidikan anaknya kelak, bisa punya mobil walupun tidak mewah, bisa perbaiki rumah yang dibeberapa tempat atapnya sering bocor, bisa bantu keluarganya yang kampung dan sebagainya. Dan untuk itu ia harus bersaing dengan 9.999.999 orang di Jakarta ini! Tentu ini juga menjadi ’beban’ tersendiri bagi Sariman.


Nah, dari situ mungkin kita bisa maklum jika kemudian Sariman berubah secara emosional. Ia larut dalam kebisingan dan tumpukan permasalahan dikepalanya.
Di NLP disebutkan bahwa ”mind and body are parts of the same cybernetic structure” artinya fisik dan fikiran akan saling kait-mengkait, saling mempengaruhi. Jika fikiran kita senang, maka kesenangan itu secara otomatis akan terrefleklsikan oleh tubuh kita. Jika fikiran kita kusut maka kusut pula nampaknya muka kita.


Celakanya, ternyata banyak yang mengalami apa yang Sariman alami. Di koran SINDO hari ini (21/10/2008, hal.12) diberitakan ”25% Penduduk Alami Gangguan Jiwa”, di Jakarta diperkirakan ada 2 Juta warga terkena neurotik, seperti depresi, cemas, dan psikosomatis. Bahkan diperkirakan ada 1 dari tiap 1.000 orang terkena skizofrenia.


Saya menjadi kuatir, apalagi saat ini orang-orang tengah ramai berebut kursi di pemilu 2009. Jangan-jangan diantara mereka yang maju menjadi calon legislatif, ataupun calon presiden atau calon wakil presiden, adalah orang-orang yang stress itu, yang sebenarnya depresi dan mengalami gangguan jiwa. Lha bagaimana nasib bangsa ini kalau nanti dipimpin oleh orang-orang yang secara kejiwaan ’sakit’?


Saya kira ini bukan omong kosong atau provokasi. Gejala kearah itu sangat terbaca jelas. Coba kita perhatikan pendapat Ida Ruwaida, sosiolog dari UI. Ia mengatakan, dalam konteks sosial bangsa Indonesia memang tengah ’sakit’ sosial, misalnya terkait kepribadian yang mendua, yakni sifat seseorang ternyata berbeda sekali dengan apa yang ditampilkan dimuka umum. Menjadi jelas bukan? Untuk dipilih sebagai wakil rakyat ataupun presiden, mereka bermanis-manis, tetapi kontra-produktif dengan kenyataannya dikemudian hari. Dan itu sudah terjadi. Akankah terulang lagi?


Suatu ketika Sariman berkonsultasi dengan sahabatnya, ia menanyakan bagaimana seharusnya ia menyikapi semua ini. Sahabatnya hanya mengatakan satu hal, ”Man, jika yang kamu cari kebahagiaan, kamu tidak akan pernah menemukannya, karena kebahagiaan itu harusnya di ciptakan, bukan dicari. Dan kemampuan orang menciptakan kebahagiaan dalam dirinya tergantung kemampuannya mensyukuri apa yang didapatkannya, dengan itu ia akan bisa memesrai keadaan, ia akan bisa berdamai dan mesra dengan segala situasi. Disitulah letak kebahagiaan itu Man…”


Oooaaalaaaahhh…

Tak Takut Dosa, Tak Tergoda Pahala

February 12th, 2008 by loveray

Tidak Takut Dosa, Tidak Tergoda Pahala

 

Haqul Yaqin. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa seorang maling ayam atau
maling sandal di masjid pun sebenarnya tahu bahwa perbuatannya dosa.
Orang-orang kaya itu, saya yakin juga tahu betul bahwa ber-derma, shadaqoh, membantu yang lemah, itu
berpahala dan sangat mulia. Lalu mengapa tetap saja maling dan tetap saja
kikir? kata Sariman. Terasa pilon ndak sih?

Coba anda tanya kepada
para koruptor kelas teri hingga kelas kakap, apakah mereka tahu bahwa mengambil
keuntungan yang bukan haknya itu salah? Pasti mereka tahu. Tanya kepada
suami-suami yang melakukan pengkhianatan kepada istrinya dan tanya kepada
istri-istri yang melakukan perselingkuhan dibelakang suaminya, dalam kesadaran
mereka pasti ada secuil perasaan bahwa yang dilakukannya salah.

Tanya kepada pelaku
birokrasi di pemerintahan kita, apakah mereka tahu bahwa mempersulit hal-hal
yang semestinya bisa dipermudah lalu mengambil keuntungan dari keadaan itu
sesungguhnya termasuk penyimpangan? Pasti mereka tahu.

Apakah para pengendara
kendaraan bermotor dan supir angkutan
umum tidak tahu bahwa jika traffic light berwarna
merah itu tandanya berhenti, kalau ada tanda huruf “P” dicoret itu artinya
dilarang parkir, tanda huruf “S” itu berarti dilarang berhenti? Pasti mereka
tahu. Haqul yaqin, jika mereka semua
ditanya apakah mereka mau menerima hukuman atas pelanggaran dan penyimpangan
yang mereka lakukan, pasti lah mereka dengan tegas mengatakan “tidak”.

Pertanyaannya, mengapa
kita tahu hal-hal yang benar tetapi justru tidak tergerak untuk melakukan? Mengapa
kita tahu hal-hal yang salah tetapi kita tidak kuasa menolaknya?

Kalau kita mendengar
ceramah agama di TV-TV atau di masjid-masjid, da’i dan para mubaligh
berkoar-koar tentang surga-neraka, pahala-dosa. Dikatakan misalnya, kalau
melakukan puasa dan kebaikan dibulan ramadhan, pahalanya dilipatgandakan seribu
kali dan dibukakan pintu surga. Mencuri itu perbuatan dosa dan ganjaran bagi
pelaku dosa adalah neraka. Tapi tetap saja banyak yang tidak puasa dan banyak
yang tetap mencuri.

Maunya kita ini

kan

terima enaknya saja.
Berenang-renang ketepiannya kita mau, tapi ogah
berakit-rakit ke hulu. Nangkanya mau tapi tidak mau kena getahnya. Uangnya
mau tapi malas kerjanya. Surganya mau tapi perintah-Nya diabaikan. Jabatannya dan
fasilitasnya mau, tapi komitmen untuk mensejahterakan masyarakat dilupakan. Maunya
menuai tapi enggan menyemai.  Begitulah
“wajah pilon” kita, kata Sariman.

Kita ini kok mau menang sendiri, memangnya siapa
kita ini?

Saya jadi teringat cerita
tentang Si Endang. Dia ini (selalu hadir di acara Kenduri Cinta di TIM) oleh
sebagian besar orang dianggap tidak normal dan tidak waras lantaran bentuk
fisik dan tampilannya terlihat ‘berbeda’, hanya sebagian kecil saja yang
menganggap dia itu menyimpan rahasia hakikat pemahaman sufistik dalam
kehidupannya. Katanya, ketika di tawari uang, ia terima uang itu. Ketika di
tawari sebungkus makanan, ia terima makanan itu. Namun ketika ditawari
keduanya, ia menolak dan hanya memilih salah satunya biarpun anda memaksanya.

Jika ditanya mengapa,
Endang akan menjawab sambil cengar-cengir
“karena saya hanya lapar, jadi tidak butuh duit” atau “saya sudah kenyang jadi
saya pilih uang saja”. Sederhana. Dia hanya ambil sesuai kebutuhan, sesuai
takaran. Seandainya anda di suruh memilih, rumah atau mobil, jabatan atau
ketenangan, kekayaan atau kesehatan, baju atau celana, saya bisa duga anda akan
mengatakan “saya pilih dua-duanya”. Apakah jawaban anda tetap sama jika
pilihannya ‘surga atau neraka’?

Sepertinya bangsa ini
harus berguru kepada Endang. Karena hampir semua elemen bangsa ini, dari
penyelenggara pemerintahan sampai yang diperintah, yang mengaku dirinya lebih
normal, lebih waras, lebih intelek daripada Endang, justru rakus dan tamaknya amit-amit. Hutan dan isi lautan di makan
habis, dana BLBI di bawa kabur, aset-aset Negara di jual untuk dana kampanye
dan masih banyak kerakusan-kerakusan lainnya. Pilon kok di piara.

Ya bagaimana mau bener, kata Sariman. Kita ini bangsa
yang tidak pernah mampu menentukan pilihan dengan komitmen yang utuh, tidak
setengah-setengah. Maunya kaya tapi kerja kerasnya tidak mau, maunya demokrasi
tapi menolak adanya perbedaan pendapat, maunya ekonomi kerakyatan tapi
menyuburkan konglomerasi, maunya mensejahterakan rakyat tapi anggarannya di
sunat, maunya di hormati tapi kelakuannya sangat biadab, mau dipilih jadi
presiden tapi hanya hobi obral janji dan propaganda palsu.

Jangan-jangan memang kita
ini belum menjadi manusia utuh. Setengahnya manusia, setengahnya lagi ondel-ondel,
jin, genderuwo atau iblis. Apakah kelak setengah jasad kita ada disurga dan
setengahnya terpanggang di neraka?

NO CHOICE : Be Abnormal !

January 29th, 2008 by loveray

NO CHOICE : Be Abnormal !

Manusia, dimasyarakat modern membedakan antara waras dan gila, normal dan
abnormal, secara transparan. Untuk itu kemudian ada rumah sakit jiwa bagi yang
gila. Pada era pra-modern tidak ada rumah sakit jiwa, orang gila dibiarkan
hidup bersama masyarakat. Orang waras dan gila sama-sama diterima di
masyarakat.

Apa sih waras-gila,
normal-abnormal itu?

Tulisan ini jelas tidak dimaksudkan menjawab pertanyaan itu. Waras dan
Gila, menurut Sariman jaraknya tipis sekali. Orang dianggap waras jika orang
tersebut berperilaku sesuai kepatutan umum, maka penyimpangan terhadap
kepatutan itu disebut tidak waras atau gila. Nah ini yang kadang-kadang membuat
kita jadi pilon. Bagaimana tidak,
kepatutan itu dimasyarakat sangat relatif.

Dahulu, lima belas atau sepuluh tahun lalu, jika ada sepasang laki-laki
perempuan jalan bergandengan tangan dikampung saya, maka itu akan di cemooh
banyak orang karena dianggap melakukan perbuatan yang tidak patut, tapi
sekarang masyarakat sangat permisif dengan hal semacam itu, mau bergandengan
tangan kek, mau berciuman kek, mau peluk-pelukan didepan umum kek, patut-patut saja. Huhhh!!!

Orang-orang yang sekarang menghuni rumah sakit jiwa itu, apakah mereka
benar gila? Atau hanya karena cara berpikir dan berperilakunya yang tidak
sesuai kepatutan umum tadi? Mereka lantas kita anggap gila. Kira-kira apa
penilaian mereka yang gila itu terhadap anda-anda yang waras? Bisa jadi menurut
mereka justru anda lah yang gila karena anda tidak berperilaku dan bersikap
menurut standar kepatutan mereka.

Banyak orang yang disebut waras yang melakukan hal-hal gila. Misalnya
suami yang mengkhianati istri, istri yang serong dengan sopir pribadinya,
mengkonsumsi minuman keras berlebihan, mengkonsumsi narkoba, mengebiri hak-hak
rakyat, menaikkan harga sembako diatas kemapuan daya beli masyarakat,
mengorbankan kepentingan bersama demi kepentingan pribadi, menjual aset-aset Negara,
itu semua kan sungguh-sungguh nyata melanggar kepatutan, tapi mengapa tidak
terima jika dibilang tidak waras atau gila? Dasar pilon!

Demikian juga dengan normal-abnormal. Orang dibilang normal jika
perilaku, sikap dan tindakannya sesuai kelaziman pada umumnya. Orang kerja
dapat uang atau imbalan, itu normal. Orang berpikir mendapat solusi, itu
normal. Untuk bisa menjadi orang sukses harus sekolah, kemudian kerja atau
membangun usaha, itu normal. Jadi kalau ada orang tidak berpendidikan tapi bisa
sukses maka itu abnormal, bukan?

Ada

sebuah kalimat yang pada
intinya adalah sebuah ajakan untuk menjadi abnormal, begini “jika anda ingin
menjadi luar biasa maka lakukan hal-hal yang luar biasa”. Jadi kalau kita
melakukan yang normal-normal saja (standar) maka hasilnya juga biasa saja.
Tetapi kalau kita melakukan hal yang luar biasa dalam arti diluar kebiasaan
umumnya atau sesuatu yang orang lain belum bisa atau belum pernal lakukan
(abnormal), maka kita akan menjadi luar biasa. Nah, hal biasa pun bisa menjadi
luar biasa apabila ditangan orang abnormal ini.

Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, itu luar biasa karena ia melakukan hal-hal
yang tidak dilakukan oleh banyak orang. Mereka itu abnormal. Thomas Alfa
Edison, Kolonel Sanders, Julius Tahija, Andrie Wongso, Ciputra, Iwan Fals,
Slank, dan lain-lain, mereka itu adalah orang-orang yang melakukan sesuatu
secara berbeda dari yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Abnormal
juga. Hanya orang-orang pilon saja
yang memilih menjadi orang normal, kata Sariman tegas.

Normal itu umum, standar. Maka abnormal itu memiliki dua kemungkinan,
dibawah atau diatas standar umum. Dua-duanya abnormal juga. Jadi anda yang
abnormal jangan gede rasa dulu, salah-salah anda bisa termasuk yang dibawah
standar. Padahal kunci keberhasilan itu adalah ketika kita bisa melampaui batas
standar itu tadi, semakin tinggi kita lampaui semakin sukses kita.

Di perusahaan dan dunia kerja ini mutlak. Orang-orang yang kerjanya
standar-standar saja, tidak mendapatkan penghargaan. Ingat sebenarnya ketika
sebuah perusahaan hendak merekrut pegawai sebenarnya mereka ingin mancari
karyawan yang minimal ‘bagus’ (good), syukur-syukur dapat yang “excellent” atau
“outstanding” yang mau dibayar “fair”. ‘Cukup’ (fair) saja tidak cukup. Artinya
perusahaan mencari orang-orang yang diatas rata-rata, diatas normal alias
abnormal.

Kalau anda sudah tiga tahun bekerja dan belum mendapat kenaikan gaji yang
cukup berarti sementara pertumbuhan bisnisnya cukup berkembang, belum juga
mendapat promosi, maka itu artinya anda hanya pekerja normal. Boss anda tidak
akan mengucapkan ‘terimakasih’ kepada anda, karena memang untuk itu anda
dibayar. Jika anda di depak dari jabatan anda karena target tidak achieved, atau anda di demosi karena
anda kerjanya lelet, itu artinya anda
abnormal tapi yang dibawah standar. Dari sisi perusahaan, keberadaan anda hanya
menjadi beban. Dan hanya orang-orang abnormal (yang diatas rata-rata) yang
layak mendapatkan penghargaan, kenaikan gaji atau promosi. Orang-orang ini,
adalah orang-orang yang bisa melakukan turn-around,
memutar balikkan keadaan dari rugi menjadi laba, dari inefisien menjadi
efisien, dari uncontrol menjadi controllable, dari chaos menjadi konstruktif, Jadi
apakah anda akan tetap keukeuh menjadi
orang normal?

Saya jelas abnormal, kata Sariman. Saya tidak mau hidup saya
standar-standar saja, lahir, tumbuh, sekolah, kerja, menikah, punya anak, tua
dan mati. Itu bukan kehidupan yang saya impikan. Saya ingin menjadi teman
sekerja Tuhan, saya ingin menjadi rahmat bagi seluruh alam, saya ingin mengubah
dunia ini menjadi penuh warna dan penuh cinta kasih, hidup hanya sekali harus
berarti. Dan saya sadar itu perlu pemikiran, tindakan, langkah-langkah,
strategi yang berbeda dengan yang dilakukan orang normal pada umumnya.

Bagaimana dengan anda?

PILONIAN 31 : HARGA SEBUAH MAAF (?)

January 11th, 2008 by loveray

Harga Sebuah “Maaf” ?

(by Ray Asmoro)

 
Ada cerita tentang kawan saya, Si Anu. Kawan
saya itu saat ini sedang di gugat cerai istrinya, setelah tujuh tahun
mengarungi hidup bersama dan telah memiliki dua orang anak yang cantik dan
ganteng, plus mereka sangat pintar
dan lucu, membuat setiap orang gemes bahkan
iri. Sungguh, mereka adalah karunia terindah dari Tuhan. Tetapi itu tak cukup
kuat untuk menyurutkan kemauan Si Anu untuk menceraikan istrinya.

 
Sebenarnya persoalannya sepele. Suatu malam ketika Si Anu dan
istrinya sedang ‘pemanasan’, tiba-tiba ada SMS masuk ke handphone Si Anu, tidak
diketahui namanya, isinya bernada mesra. Seperti istri-istri pada umumnya,
istri Si Anu langsung sewot,
marah-marah. Bahkan ‘pemanasan’ malam itu langsung dihentikan. Si Anu (menurut
pengakuannya) mencoba jujur bahwa itu SMS nyasar, ia tak kenal pengirimnya.
“Berani sumpah pocong deh…” katanya.

 
Tapi istrinya tetap tidak
percaya. Malam itu mereka tidur saling membelakangi. Esok pagi tiada tegur
sapa. Si Anu mencoba menjelaskan sekali lagi. Tapi istrinya tidak menggubris,
bahkan malah menjadi-jadi. Biasanya jadi orang rumahan, istrinya kini sering
pergi sendirian ke mall atau ke disko sama teman-temannya tanpa permisi pada
suami. Ketika Si Anu coba bertanya, kenapa jadi berubah seperti itu, malah
dijawab “kamu yang memulainya, dan aku masih terhormat tidak melakukan
perselingkuhan”. Begitulah awal mulanya.

 
Pernah mereka pergi ke psikiater
untuk memperbaiki hubungan. “Apa? Saya harus minta maaf ke dia? Nggak sudi!” kata istrinya. “Minta maaf?
Apa salah saya? Dialah yang salah, enak aja”, kata Si Anu.

 
“Saya bukan tidak mau memperbaiki
hubungan ini, kalau dia tidak meminta maaf dulu dengan sungguh-sungguh, saya
tidak akan pernah memaafkannya!” kata istrinya lagi. “Emang saya salah apa?
Saya sudah menjelaskan yang sesungguhnya, dia tetap tidak percaya. Sekarang
saya harus minta maaf? Atas sesuatu yang tidak saya perbuat? Sorry ye!” kata Si Anu.

 
Psikiater dan bahkan orang tua,
saudara dan sahabat-sahabatnya semua menyayangkan keputusan mereka. “mbok ya salah satu mengalah, kasihan
anak-anak, mereka ndak tau apa-apa
malah jadi korban” kata mereka. Tapi Si Anu dan istrinya terlalu keras kepala
untuk menerima nasehat ‘mengalah’ seperti itu. Ego sudah bersarang di kepala mereka
dan tumbuh subur hingga sesak diseluruh rongga badannya.

 
Hanya karena ego, gengsi, mereka
mau mengorbankan arti tujuh tahun kebersamaan mereka membangun rumah tangga,
mengorbankan anak-anaknya, apa ndak pilon
itu namanya?

 
Bukankah sebenarnya permasalahan
itu dipicu oleh hal sepele dan bisa
di selesaikan dengan cara yang paling sederhana? Hanya dengan mengucap “Maaf”
maka selesai perkara.

 
Dulu ketika terjadi perang dingin
antara AS dan Uni Soviet, keduanya terlibat dalam perseteruan yang hampir saja
membuat malapetaka bagi seluruh penghuni dunia ini. Bahkan konon, AS sudah
mengaktifkan 70.000 senjata berkepala nuklir yang diarahkan ke Uni Soviet.
Tinggal tekan satu tombol maka populasi manusia di bumi diperkirakan hanya
tinggal sepertiganya. Upaya penyelesaian perseteruan sudah sedemikian gencar
tapi tak kunjung ada kata sepakat dan ternyata perseteruan itu selesai dengan
sangat sederhana. Konon Ronald Reagen presiden AS saat itu bertemu dengan
Mikhael Gorbachev dan Reagen menjabat tangan Chev seraya berkata “call me Ron”. Sesudahnya konflik itupun
reda, perang dunia ketiga tidak terjadi. (Sebut saja itu permaafan tingkat
tinggi, tidak ada kata ‘maaf’ tapi terbina keakraban dan saling memaafkan,
tidak ada yang merasa direndahkan).

 
Ketika Si Anu tadi meminta
pendapat Sariman tentang persoalan gugat cerai yang dihadapinya. Sariman
seperti biasanya ia melakukan pendekatan yang agak berbeda. Ia mulai dengan
pertanyaan “ente dulu kuliah jurusan
apa?”.

 
Si Anu menjawab “akuntansi”.

 
“Terus, ente sekarang kerja di bagian apa?”

 
“Finance”

 
“Nah, yang saya tanyakan, kalau
saja “maaf” itu harus dimasukkan ke dalam laporan keuangan, berapa nilainya”
lanjut Sariman.

 
Ndak ada lah itu”

 
“Saya bilang, kalau. Dalam
akuntansi semua harus ada nilainya kan?”

 
“Ya, kalau harus ada, berarti
nilainya nol”

 
Hmmm… interesting, brilliant answer”

 
“Maksud loh?”

 
“Kamu sudah tahu jawabannya, pilon!”,
kata Sariman sambil meneguk kopinya.

 
Jadi kalau “maaf” itu nilainya
nol, kenapa kita pelit? Kalaupun kita berikan seribu atau bahkan sejuta maaf
kepada orang apakah kita dirugikan? Toh seribu
atau sejuta kalau dikalihan nilai ‘maaf’ yang hanya nol, maka jadinya nol juga.
Jadi berapapun banyaknya ‘maaf’ tidak akan membuat kita rugi apalagi jatuh
miskin.

 
Ego, gengsi, benci, iri-dengki, nilainya
berapa dalam akuntansi? Nol juga kan?
Jadi apa untungnya kita menumpuk ego, gengsi atau kebencian, toh nilainya cuma
nol. Menumpuk ego sebanyak-banyaknya juga tidak membuat kita ‘jatuh kaya’ kan? Jangan suka belagak pilon deh…

 
Jadi kalau Pak Harto kita beri
per-maaf-an (dalam konteks kemanusiaan) apakah kita rugi? Kalau kita membecinya
apakah lantas kita untung? Tidak juga kan?
Kita tidak ada masalah dengan manusianya kan? Yang kita permasalahkan kan soal penegakan hukum. Itu dua hal yang
berbeda karenanya perlu perlakuan atau pendekatan yang berbeda pula. Tentu anda
boleh setuju atau menolak. Hanya saja apakah dengan membenci atau menghujatnya
lantas kekayaannya berpindah ke rekening anda? Hmmm… saya rasa mustahil, kata
Sariman. Kalau kita memaafkannya, manakala hukum harus ditegakkan, itu
semata-mata demi hukum dan keadilan, bukan karena kebencian, gitu lhoh…

 
Kembali soal “maaf” tadi, hebatnya,
walaupun ‘maaf’ itu nilainya nol tapi impact-nya
luar biasa. Ingat perseteruan AS dan Soviet tadi, dan banyak contoh-contoh
lainnya. Pelajaran ‘maaf’ lainnya adalah agar kita bisa menjadi orang yang
pemurah. Tuhan saja maha pemurah, masa kita
pelit sih? Dzalim itu namanya, kata Sariman. Kalau kita menjadi pemurah maka
balasannya juga akan setimpal. Ingat teori “give and rechieve”, hukum sebab
akibat, atau hukum tabur-tuai.

 
Nah sekarang kita punya pilihan,
apakah kita memilih menjadi orang pilon dengan menumbuhsuburkan ego, gensi
atau kebencian yang sebanyak apapun anda tumpuk nilainya juga nol dan tidak
membuat anda kaya raya dan bahagia, malah mengurangi kadar kemurnian
kemanusiaan anda. Atau, menjadi pemurah dengan ‘permaafan’ yang walaupun
nilainya nol tapi ‘daya ledak’nya sangat dahsyat dan luar biasa, dan anda tidak
akan dirugikan satu sen pun, biarpun anda memberikannya kepada seribu, sejuta
atau kepada seluruh umat manusia dimuka bumi ini sekalipun.

 
It’s your choice!

 


Gate 6, Bandara Juanda Surabaya

5 Januari 2008; 17:15wib

PILONIAN 11 : Global Warming

December 17th, 2007 by loveray

WarPILONIAN 11 : Global Warming

(by : Ray Asmoro)

 
Dua minggu belakangan, di
koran-koran, di TV-TV ramai diberitakan tentang pemanasan global dan dampaknya
terhadap ekosistem bumi. Isu pemanasan global sedemikian hebat dan menakutkan,
sehingga kita yang mendengar beritanya sampai merinding.

 
Semua orang merinding, tapi tidak Sariman. Dia mah, adem-ayem saja. Bukan lantaran dia cuek bebek terhadap lingkungan tetapi… dengarkan petikan wawancara
saya dengan Sariman.

 
Saya : Mas Sariman ini piye
toh
kok adem-ayem saja. Padahal
saat ini semua ramai menyimak isu pemanasan global

 
Sariman : Saya tidak adem-ayem,
saya peduli. Tetapi apa ya harus terus menyikapi itu semua secara emosional?
Begini lho dik…Pemanasan global ini
bukan isu baru, bertahun-tahun lalu juga pernah diangkat. Bahkan kenapa
dinosurus itu sampai punah? Ya salah satu penyebabnya adalah pemanasan global,
sehingga ekosistem bumi berubah dan mereka tidak adaptif terhadap perubahan
itu.

 
Saya : Tetapi mengapa minggu-minggu ini begitu ramai diperbincangkan,
Mas?

 
Sariman : Lha disitulah
letak pilon-nya. Kenapa baru sekarang, karena tiga hal. Pertama, ke-pilon-an manusia. Maksudnya, manusia bereaksi setelah ada akibat
yang tidak menguntungkan. Pilon kanitu namanya. Kita kan diberikan akal pikiran, punya kemampuan
analisis yang luar biasa, seharusnya mampu menghitung dan mengukur apa-apa yang
bakal terjadi, ya hitungannya mungkin tidak persis tepat, tapi dengan begitu
kita bisa melakukan tindakan-tindakan preventif.

Kalau kita mengendarai mobil atau
motor kita kan bisa perkirakan (walaupun tidak persis
tepat) seberapa jauh jarak aman kita dengan kendaraan di depan. Kalau jarak
kita dengan kendaraan didepan hanya 2 meter, sedangkan kecepatan kita dan
kecepatan kendaraan didepan kita sama-sama 80 km/jam, maka jika kendaraan
didepan kita berhenti mendadak maka bisa dipastikan kita akan nabrak. Kalau ndak mau kecelakaan, ya jaga jarak aman
dong… bukan terus menyalahkan kendaraan didepan kita atau pak polisi.

Nah ini tidak ada kesadaran
seperti itu. Pemanasan global itu sudah dibicarakan sejak lama, bahkan oleh
Negara-negara maju seperti AS itu. Tapi karena dulu dampaknya belum cukup bisa
membuat merinding, maka ya terus
lenyap isu itu. Lalu itu hanya menjadi isu bagi LSM-LSM lingkungan yang (maaf)
seringkali kurang memiliki kekuatan politis untuk melakukan perubahan.

Kedua, ini seperti ajang ‘show-off’,
dua minggu sebelum ada konferensi di Bali itu, sepertinya belum terjadi
pemanasan global toh? Tidak ada koran
atau televisi yang mengangkat topik pemanasan global dalam head-line nya. Tapi begitu petinggi dan pakar dari banyak Negara
berkumpul di Bali, bicara tentang pemanasan global,
sekonyong-konyong, ujug-ujug,
terjadilah pemanasan global itu. Kemudian koran dan televisi ramai memasang
topik pemanasan global sebagai headline
beritanya.

Ada yang menyajikan
liputan dampak pemanasan global bagi nelayan dan petani. Kenapa baru sekarang coy…? Tahu kenapa? Karena petinggi dan
pakar itulah yang menyebabkan pemanasan global, jadi mereka itu seperti tuhan,
menentukan apa yang terjadi. Coba saja petinggi dan pakar dari berbagai negara
itu tidak berkumpul di Bali, mungkin saja pemanasan
global tidak terjadi. Jadi pesannya, jangan macam-macam sama para petinggi dan
pakar itu. Dasar pilon!

Itulah alasannya…

Saya : Tadi katanya ada tiga hal, mas Sariman baru sebutin dua hal,
terus hal ketiga apa dong Mas?

Sariman : Hmm.. iya ya.
Hal ketiga, ini murni politis.
Negara-negara berkembang macam kita ini di paksa untuk melakukan pelestarian
lingkungan, sementara negara maju sibuk mengotori dunia dengan segala macam dan
bentuk pembangunan. Ini kanun-fairness. Padahal kan
sama-sama butuh. Amerika butuh udara segar, kita butuh mengejar ketinggalan
dengan banyak pembangunan. Lha kalau kita tidak boleh “mengorbankan”
lingkungan, terus Amerika mau kasih kontribusi apa? Dia ndak boleh diam saja. Itu lhoh
intinya.

Saya : Ok, I get the point. Terus apa yang sebaiknya dilakukan oleh
warga Negara Indonesia,
Mas?

Sariman : Seharusnya ya peduli. Bahkan sebetulnya itu fardhu’ain hukumnya. Kepedulian itu bisa
dimulai dari lingkungan terkecil, dari hal-hal remeh. Misalnya memisahkan
sampah organik dan non-organik. Tapi… (Sariman diam agak lama, ekspresinya
aneh, tidak jelas apakah ia sedang berpikir atau bingung)

Saya : Tapia pa Mas..?

Sariman : Capek deh…

Saya : Maksudnya?

Sariman : Bangsa kita ini kan sebenarnya kaya raya, masyarakat kita ini sebenarnya memiliki potensi yang luar
biasa. Tapi ya itu, kalau kita sadari. Masalahnya banyak yang ndak sadar sih. Padahal instansi departemen penerangan sudah membuat program
penerangan dan penyuluhan walaupun efektifitasnya dipertanyakan, para kyai,
pendeta, biksu, ulama, motivator, guru, tokoh masyarakat, semua juga sudah
sering mengingatkan akan kesadaran itu. Soal kebersihan saja misalnya, tapi tetap
saja kotor. Lha saya jadi mikir mungkin memang harus Tuhan yang turun tangan,
dan pemanasan global ini mungkin salah satu cara Tuhan untuk memberikan
peringatan. Tapi seberapa banyak dari 270 juta penduduk Indonesia
ini yang menyadari? Not more than 10%, I
think.

Padahal itu juga bukan
kepentingan Tuhan. Kita peduli atau tidak terhadap lingkungan, Tuhan tidak
merasa rugi. Bahkan kita tidak menyembah Tuhan pun, Tuhan tidak rugi. Tapi
ingat Tuhan pernah bilang, kalau kalian tidak ikut aturan-Ku (kata Tuhan), ya
silakan menyingkir dari bumi-Ku. Lha anda
terus mau kemana?

 

Jakarta,
Desember 2007

PILONIAN 6 : Masyarakat Untung atau Buntung (?)

December 13th, 2007 by loveray

PILONIAN (6) : Masyarakat Untung atau Buntung (?)

(By : Ray Asmoro)

Sariman termangu-mangu, nggumun, oleh tingkah polah masyarakat sekitarnya yang punya fleksibilitas atau kelenturan dan sikap yang sangat nrimo. Disatu sisi ia merasa bahwa sikap itu sebagai sesuatu yang positif karena sikap itu justru menunjukkan bahwa masyarakat kita memiliki daya tahan yang luar biasa.

Dipojokkan disudut sesempit apapun, di tekan sekeras apapun, di himpit dalam keterdesakan sekuat apapun, bahkan di permainkan semau-maunya oleh yang empunya otoritas kebijakan segila apapun, masyarakat kita masih bisa nrimo dan berlapang dada. Luar Biasa!

Lho kok? Jangan “lho kok”, ini sungguh-sungguh, serius ini. Kata sariman. Bagaimana tidak, masyarakat kita sudah sedemikian kenyang oleh perlakuan-perlakuan yang kurang adil, misalnya saja tiba-tiba minyak tanah menghilang dari pasar, harga kebutuhan pokok melambung tinggi, harga BBM dan TDL juga meresahkan, harga gabah rendah tak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkannya untuk mencangkuli dan menggarap sawahnya, biaya pendidikan dan rumah sakit semakin tidak bersahabat, dan puluhan bentuk keterdesakan lainnya, mereka masih bisa nrimo, tetap adem-ayem seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Lebih parah lagi masyarakat kita yang merasakan himpitan itu di kelompokkan dalam istilah (yang disebut) “rakyat kecil” alias wong cilik. Bukankah itu salah satu bentuk penistaan yang sangat terang-terangan? Dasar pilon!

Jika ada kategori “rakyat kecil” maka logikanya ada “rakyat besar”. Bagaimana bisa disebut kecil jika tidak ada yang besar. Jika rakyat kecil adalah masyarakat yang mengalami keterdesakan secara sistemik, maka logikanya rakyat besar adalah yang terbebas dari keterdesakan itu dan (kemungkinan besar) rakyat besarlah yang membuat sistem itu. Tetapi istilah “rakyat besar” sama sekali tidak populer, bahkan cenderung tidak ada. Dan istilah “rakyat kecil” biasanya disebut “rakyat” saja. Jadi para pembesar itu siapa? Rakyat atau bukan? Jika sama-sama rakyat mengapa harus di kotak-kotakkan?

Ajaibnya, jika sudah memasuki masa-masa kampanye pemilihan anggota dewan, pilkada, atau apapunlah namanya, mereka ramai-ramai dan berteriak sangat lantang, mengaku-aku dirinya sebagai “rakyat”. Dasar pilon!

Saya jadi ingat sebuah film yang berjudul “The Last King From Scotland” yang mengkisahkan sepak terjang seorang Idi Amin, diktator dari Uganda yang telah membantai lebih dari 400.000 rakyatnya. Dalam film itu Idi Amin berpidato didepan rakyatnya, dan berkata (kurang-lebih) seperti ini : “…saya berdiri disini, menggunakan pakaian jendral, tetapi didalam pakaian kebesaran ini saya adalah pribadi sederhana, seperti halnya kalian semua…coba tanya para prajuritku, saya akan makan jika semua prajuritku telah kenyang…Kita akan bangun afrika menjadi lebih maju, kita akan bangun rumah-rumah, sekolah-sekolah, bagi masyarakat. Kita harus bangkit menjadi bangsa yang besar…” Lalu semua masyarakat menyambutnya dengan suka-cita, terbius oleh propaganda dan janji-janji politik, kemudian mereka mengelu-elukannya, “Amin! Amin! Amin!” Luar biasa, bukan?

Begitu juga yang terjadi disini. Masyarakat kita nrimo dan legowo jika pemimpin yang didukung dan dipilihnya menjadi “Idi Amin” dikemudian hari. Siapa pilon? Dan pemimpin-pemimpin itu juga aneh, begitu terpilih dan duduk di kursi empuk, lantas lupa bahwa kemarin mulutnya baru saja mengaku sebagai “rakyat kecil”.

Seharusnya, kata Sariman. Mereka “rakyat besar” itu jangan melupakan sejarah eksistensinya. Bahwa mereka juga pernah atau memohon-mohon menjadi bagian dari “rakyat kecil”. Seharusnya mereka itu lebih peka terhadap persoalan-persoalan “rakyat”, lebih lembut dan manusiawi dalam memperlakukan “rakyat” yang kenyataannya sebagai kaum mayoritas.

Tapi itulah realitanya.

Masyarakat kita tetap saja adem-ayem. Kalaupun ada yang protes, itupun hanya dalam hati, sambil diam-diam ngumpet dikamar. Kalaupun ada pengerahan masa hingga turun ke jalan berjuang untuk terbebas dari keterdesakan, masyarakat yang lain malah menggerutu, “Bikin jalan macet saja”, atau “Alaaah, paling-paling hanya massa bayaran” atau komentar-komentar miring lainnya. Tidak pernah ada kebulatan tekad, kebulatan prinsip dan persepsi, kebulatan kepentingan, kebulatan kesadaran sesama masyarakat, yang sebenarnya sama-sama tertindas. Piye to mas…?

Kesimpulannya ya itu tadi, bahwa masyarakat kita ini memiliki daya tahan yang luar biasa. Sikap nrimo dan kelenturan masyarakat ini mestinya di jadikan asset. Anda yang jadi pembesar seharusnya senang dan segera berpikir keras, kalau perlu sampai botak, untuk kepentingan masyarakat banyak. Jangan tunggu sampai macan tidur itu terbangun. Oceh Sariman.

Sikap lentur dan nrimo itu sangat positif di satu sisi. Anda pasti sering mendengar misalnya, ada orang kecelakaan kendaraan hingga kakinya terkilir, dan mereka masih bisa bilang “untung hanya kaki terkilir, coba kalau sampai patah…” atau “untung Cuma kaki terkilir, untungnya bukan kepala saya yang pecah”. Ada orang bisnis kemudian mengalami kerugian, dan masih bisa bilang “untung kerugiannya baru 100 juta, coba kalau kemarin saya setorkan modal 1 milyar kan bisa berabe”.

Cerita lainnya, ada orang udik datang ke Jakarta naik bus, kemudian tiba-tiba dia hendak turun dan bilang sama kenek-nya “Bang saya turun disini” kata Si Udik tadi.

“Tunggulah sebentar, biar busnya minggir dulu” Kemudian bus itu mulai ke pinggir, dan seperti biasanya bus-bus disini kan tidak ada yang taat asas, berhenti sekenanya, belok minggir seenaknya, dan menurunkan penumpang tanpa harus menghentikan kendaraan, dasar pilon!, “Sekarang kau boleh turun disini” kata kenek itu, “Turun kaki kiri dulu, pak” kenek mengingatkan.

Si Udik jengkel, tujuannya sudah lewat tiga ratus meter, bus masih berjalan, dan dia disuruh turun. Sudah begitu, keneknya pakai ngatur-ngatur, harus turun dengan kaki kiri dulu. Si Udik ngedumel dalam hati. Kenapa saya harus percaya pada kenek ini, lha wong saya minta berhenti disana tadi malah kebablasan hingga lebih dari tiga ratus meter jauhnya. Enak saja nyuruh-nyuruh orang, sok ngatur, memangnya saya ini orang bodoh apa? Si Udik terus ngedumel. Lalu ia melompat turun dari bus dengan kaki kanan terlebih dulu. Dan apa yang terjadi kemudian, begitu kaki kanannya menjejak tanah, dia kehilangan keseimbangan, dan terjatuh terlentang, parahnya saat terjatuh kepala bagian belakangnya nyungsep di kotoran kerbau yang ada dipinggir jalan itu.

Melihat kejadian itu, si kenek malah mengolok-olok, “Yeee, kan udah dibilang turun pakai kaki kiri dulu, nekad. Nyungseplah kau sekarang di tai kerbo”.

Mendengar olok-olok itu si udik bilang, “He! Untung saya lompat turun kaki kanan dulu. Kalau saya turun kaki kiri dulu, bukan kepala belakang saya yang kena tai kerbo, tapi muka saya, dasar pilon!”.

Begitulah, sudah kecelakaan motor, jelas-jelas rugi 100 juta, terjatuh hingga nyungsep di tai kerbo, masih bilang “untung”. Dasar pilon! Tetapi disitulah letak kekuatannya.

Artinya masyarakat kita ini memiliki kemampuan menghibur diri sendiri, memiliki rasa humor yang tinggi, mampu menertawai diri sendiri, bisa bercanda dengan segala situasi, setiap peristiwa, ironi ataupun tragedi dianggap sebagai sebuah parodi. Top banget!

Dengan sikap seperti itu, masyarakat kita tidak mudah patah. Tidak bisa ditekan-tekan, dihimpit-himpit, atau didesak-desak. Jadi, wahai penguasa, engkau perlakukan seperti apapun, engkau pojokkan dengan kebijakan apapun, engkau tindih dengan beban harga sembako, tarif BBM dan TDL semahal apapun, engkau tikam dengan propaganda politik sebusuk apapun, engkau perdayakan senista apapun, engkau adu-domba sesengit apapun, engkau injak-injak sehina apapun, engkau khianati hingga selaknat apapun, jangan harap mampu membuat masyarakat tersinggung atau marah, apalagi mencabut amanatnya. Jangan harap. Karena engaku berhadapan dengan masyarakat “untung”. Lho?

Terus sisi negatif dari sikap “untung” itu apa, Man?

“Yang negatif-negatif apa perlu dikemukanan? Nanti saya malah dibilang provokasi. Masyarakat kita sudah pada pinter kok. Sudah bisa bedakan mana positif mana negatif. Kalaupun terperosok ke dalam hal-hal negatif, toh pada akhirnya mereka akan bilang “masih untung begini daripada begitu”, memang terasa agak pilon sih…, tapi jangan buru-buru berkesimpulan begitu. Karena bisa jadi mereka hanya pura-pura pilon, dan ketika mereka sudah tidak mau “pura-pura” lagi… hmmm, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi”.

Jakarta, 23 Agustus 2007

www.rayasmoro.blogspot.com

www.rayasmoro.com

PILONIAN 3 : Nikmatnya “Menunggu” (?)

November 13th, 2007 by loveray

PILONIAN (3) ;
Menunggu (?)

(Ray Asmoro)

 

Menunggu. Hmmm, hampir semua
orang mengatakan menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Tapi Sariman
justru mempertanyakan keabsahan pernyataan khalayak ramai itu. Bukankah dunia
ini seperti ruang tunggu yang sangat besar? Dan bukankah banyak orang yang
mencintai dunia ini melebihi apapun bahkan Tuhan dan keabadiannya? Lalu mengapa
mereka bilang membosankan? Siapakah yang menyangkal bahwa kita semua sedang
menunggu datangnya kematian yang syahdu? Dasar pilon!

 

Para motivator, trainer, coaches, selalu
mengatakan, “Jangan menunggu! Kesempatan tidak bisa diraih dengan menunggu, action now!” Wow… Fantasctic!

 

Sebenarnya itu hanya soal cara
menunggu. Dalam hal ini tiga macam orang. Pertama, orang yang dalam masa menunggunya
tidak mau diam, setelah do something
tidak lantas diam tapi melakukan daya-upaya dari sisi lain, menjalankan
strategi dan taktik yang lain, agar yang ditunggu-tunggu segera datang
menghampiri, atau dalam pengertian lain, agar memuluskan dan mempercepat sampai
ditujuan.

 

Nah ini sama dengan yang
dilakukan Sariman waktu kecil. Saat kecil ia ingin punya mobil-mobilan seperti
milik temannya yang menggunakan remote
control
. Maka yang dilakukan oleh Sariman adalah meminta baik-baik kepada
orang tuanya. Walaupun mereka setuju tapi Sariman tidak diberi kepastian kapan
itu direalisasikan. Kemudian Sariman mulai menyusun strategi. Mula-mula ia
berubah menjadi anak rajin. Selesai makan bersama langsung mengambil inisiatif
untuk mencuci piring. Bangu tidur langsung menyapu lantai sekaligus mengepelnya
hingga bersih mengkilap. Pokoknya ia lakukan hal-hal yang hanya menjadi
komoditas anak yang dikategorikan rajin dan sholeh. Seminggu Sariman berlaku
seperti itu, belum juga terealisasi keinginannya. Lantas ia jalankan taktik
lainnya. Kalau menjadi anak rajin juga tidak mampu mencuri perhatian orang
tuannya, mungkin jika melakukan kenakalan-kenakalan malah bisa memberikan daya
desak yang nyata kepada orang tuannya untuk segera merealisasikan keinginannya.
Dan benar, ketika ia mulai cengeng, tidak mau disuruh-suruh, malas belajar,
mengurung diri di kamar, orang tuannya mulai bingung dan segera memenuhi
permintaan Sariman. Aneh, menjadi baik tidak dihargai, justru kenakalan malah
dihadiahi. Siapa pilon?

 

Kedua, orang yang sudah merasa
melakukan sesuatu, lalu diam menunggu sambil santai-santai dirumah, menikmati
kicau burung perkututnya. Biasanya orang begini selalu bilang “Saya sudah
berusaha kok”, walaupun hanya sekali, “Ya kalau itu menjadi kenyataan ya alhamdulillah, kalau tidak ya mungkin
memang nasib baik belum memihak saya”. Pilon
nggak sih?

 

Belum seberapa. Ada yang lebih pilon!

Ketiga, orang yang
tidak mau atau malas melakukan upaya-upaya secara massif, tapi segala yang
diinginkannya maunya langsung terealisasi. Kalau ia bilang, “Aku ingin mobil”. Cling! Langsung ada mobil didepannya.
Kalau ia berdoa “Tuhan berikan aku keuntungan besar dalam usaha”. Gubrak! Seketika angka-angka dalam
neraca dan laporan rugi-labanya berubah dari minus menjadi surplus tanpa harus
menjalankan strategi bisnis apapun. Edan!

 

Orang macam ini biasanya susah di
beritahu, suka ngotot. Kalau di
nasehati malah sok tau. “Saya kan sudah meminta melalui doa-doa saya, dan Tuhan kan
sudah janji, barang siapa meminta niscaya akan Dia perkenankan”. Mas, kalau
belajar agama jangan sepenggal-sepenggal, kata Sariman (yang kadang suka sok
agamis). Ente hanya punya dasar satu ayat, ente lihat dong ayat-ayat yang lain.
Enak saja, maunya minta ini dipenuhi, minta itu dikabulkan, minta anu di jabanin, Emang ente kira Tuhan itu karyawanmu? Dasar pilon permanent!

 

Saat ini, detik ini, ada
saudara-saudara kita yang mungkin sedang menunggu-nunggu panggilan kerja
setelah mengirimkan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus lamaran kerja. Ada yang sedang menunggu datangnya jodoh. Ada
yang menunggu promosi kenaikan jabatan atau kenaikan gaji. Ada
yang menunggu kelahiran anak. Ada
yang menunggu keputusan hakim. Ada
yang menunggu kekasih yang telah sekian lama pergi tiada kabar berita. Ada
yang sedang menunggu bis di halte. Ada
yang sedang menunggu seseorang yang telah berjanji bertemu di suatu tempat. Ada
yang sedang menunggu rembulan jatuh dipangkuannya. Menungu. Menunggu. Dan semua
orang sedang dalam masa penantian.

 

Yang lebih aneh atau malah pilon, adalah ketika yang ditunggu
datang, saat yang diharap-harap telah tiba, saat yang di nanti-nanti menjelang,
malah sewot, ngambek, marah, protes, misuh-misuh, ngedumel. Kenapa anda mengirim lamaran jika anda kemudian
menolaknya. Jika anda tidak tau posisi yang ditawarkan kenapa anda begitu yakin
dan mengharap-harapkannya.

 

Ada yang setelah mengirim lamaran kerja yang seabreg,
dan setelah menunggu agak lama, datanglah panggilan kerja. Ketika datang
ternyata ditawarkan pekerjaan sebagai sales.
Ee, malah sewot. “Kalau sales mah ogah, gue kan
maunya jadi manajer anu” seolah-olah pekerjaan sales itu hina sekali. Padahal semua pekerja adalah salesman (begitu menurut Pak Hermawan).
Dan keberhasilan berusaha harus didasari dengan pengetahuan dan aplikasi salesmanship yang bagus. Bagaimana menghadapi
orang, bagaimana mempengaruhi orang, bahkan sampai menggunakan hypnosis,
bagaimana melakukan negosiasi, menyusun time
table
dan skala prioritas, melakukan segmentasi, targeting, positioning, bagaimana menjaga customer satisfaction, bagaimana menciptakan customer retention, bagaimana melakukan branding produk, bagaimana etika bertelepon, dan sebagainya. Semua
itu komoditas seorang salesman. Dan
itu semua kunci keberhasilan sebuah bisnis atau usaha. Begitu kok dibilang remeh dan hina.

 

Ada yang setelah menikan beberapa tahun baru dikaruniai anak. Ketika lahir,
keluarlah bayi laki-laki. Ee, malah sewot
karena sebenarnya ingin anak perempuan, dan bahkan telah menyiapkan keperluan
bayi yang serba pink. Kemudian
menyalah-nyalahkan Tuhan lagi. Orang jawa bilang “dikasih ampela malah minta
hati”. Alias tidak berteimakasih, tidak mensyukuri. Dilaknat kau nanti.

 

Memang kamu ini siapa, kok mau
mendikte Tuhan. Lagian, belum tahu jenis kelamin bayimu mengapa sudah yakin
yang keluar bakal bayi perempuan lalu belanja perlengkapan bayi yang serba pink. Aneh… Dasar pilon!

 

Pertanyaan selanjutnya adalah
kapan berakhirnya masa tunggu itu. Sariman menjawab tidak tahu. Siapa yang pilon? Ya yang bertanya. Kenapa harus
bertanya kepada Sariman.

 

Yang jelas, kata Sariman lagi,
memang benar Tuhan sudah berjanji kalau ummatnya meminta pasti akan
diperkenankan. Tapi sabar dong… (sifat sok agamisnya mulai kumat). Coba deh kita pahami cara berfikirnya Tuhan. Jika Tuhan
sudah berjanji pasti akan ditepati, kan Tuhan itu maha menepati janji, nggak
kayak
kita yang suka ngaret. Lha
kalau kita merasa sudah meminta dan berusaha keras dan tidak kunjung menjadi
kenyataan jangan buru-buru timpakan kesalahan pada Tuhan.

 

Pertama yang –mungkin—harus kita
sadari, kata Sariman, adalah dimensi waktu dunia dengan dimensi keabadian tidak
sama. Dalam dimensi keabadian tidak ada batasan waktu, karenanya tidak ada
siang-malam, pagi-sore, tidak ada hukum relatifitas, tidak ada hukum
sebab-akibat, semuanya absolute,
mutlak, pasti. Sedangkan kita yang dialam dunia dilingkupi oleh ruang dan waktu, maka
semua yang didunia bersifat fana dan
sementara. Berlaku hukum relatifitas dan sebab-akibat. Menunggu sehari,
seminggu, sebulan, setahun, sewindu mungkin terasa lama bagi kita tapi itu
waktu yang sangat pendek dialam keabadian. Jadi kalau kita meminta kepada Tuhan
lalu kita telah berupaya keras dengan berbagai cara namun juga tidak kunjung
datang, mungkin karena ada determinasi waktu antara alam dunia dan alam
keabadian.

 

Kedua, Tuhan memang sengaja
menunda apa yang kita minta. Tentu dengan alasan yang Tuhan sendirilah yang
tahu. Mungkin saja jika permintaan kita dikabulkan ternyata bathin kita belum
siap, justru menjadikan kita kufur
dan takabur, justru malah
mendatangkan ke-mudhorotan bagi diri
sendiri maupun lingkungan, maka Tuhan bersedia menunggu sampai kita benar-benar
siap menerimanya. (Lho apa ngga baik Tuhan itu. Tuhan saja bersedia
menunggu kok kenapa kita jadi kemrungsung?)

 

Ketiga, mungkin karena yang kita
minta irealistic, mengada-ada, diluar
batas kemampuan kita. Tuhan kan memberikan sesuatu bahkan bencana sesuai kemampuan kita. Lha kalau Tuhan belum memberikan yang kita pinta, mungkin yang
kita minta sesungguhnya diluar batas kemampuan kita. Persoalannya banyak
diantara kita yang terlalu PD, ge-er, merasa yang paling mampu, yang paling
tahu, yang paling bisa, padahal aslinya mbelgedhes.Nah,
Tuhanlah satu-satunya yang tahu seberapa takaran keimanan kita,
kesungguh-sungguhan kita, dan keikhlasan kita, karena Tuhan yang menciptakan
kita. Tuhan kan tidak pilon. Kita saja yang sering pilon, berbuat sesuatu tapi tidak tau
esensinya, melakukan sesuatu tapi tidak paham hakikatnya.

 

Keempat, mungkin Tuhan punya
rencana lain terhadap kita. Bukannya bermaksud mengingkari janjinya tapi Tuhan
tahu apa yang terbaik bagi kita. Maka ketika kita meminta sesuatu dan ternyata
menurut kalkulasi Tuhan itu “tidak baik” bagi kita, bisa saja Tuhan men-subtitusi-kannya dengan hal yang lain
yang lebih pas dengan kita.

 

Itulah enaknya punya Tuhan, brur! Dia itu penuh kalkulasi, penuh perhitungan,
tahu detil dari segala hal, jadi jangan kuatir. Tuhan tidak pernah salah atau
tertukar. Yang seharusnya Si Ani jodohnya Si Anu, tertukar dengan Si Itu, Impossible.

 

Maka menunggu itu seharusnya
tidak perlu merasa bosan. Karena itu salah satu kodrat kita sebagai manusia
yang hidup dilingkupi ruang dan waktu. Maka persoalannya adalah, kita
manfaatkan bagaimana masa tunggu kita ini? Dengan kesadaran bagaimana
seharusnya kita hadapi masa tunggu ini? Agar ketika yang ditunggu-tunggu datang
kita bisa tersenyum, penuh suka-cita. Dan itulah kematian yang syahdu, kematian
yang disambut dengan suka-cita, dengan senyum.

 

Tapi kenapa kemarin kamu uring-uringan, Man…?

 

“Bagaimana saya tidak uring-uringan, saya lagi mengerjakan
tugas kantor hingga larut, pulang dari kantor larut, hingga saya lupa memberi
kabar istri, ditambah lagi handphone saya sedang drop. Begitu sampai rumah jam
12 malam disambut dengan muka kusut istri saya, dia bilang : Papa ini ya tidak
tahu orang resah apa, tidak tahu kalau istri dirumah ini menunggu dengan
perasaan kuatir dan cemas, takut kalau ada apa-apa di jalan… bla-bla-bla…

Lha kan saya jadi bingung. Siapa yang pilon dalam
hal ini. Saya kah yang pilon karena
tidak memberikan kabar karena harus pulang larut? Atau istri saya?”

 

“Jelas kamu yang pilon, Man. Kamu yang salah”

 

“Oke, saya memang salah dalam
satu sisi. Tapi aneh apa tidak jika sesuatu yang tidak kita inginkan untuk
terjadi ternyata benar tidak terjadi lalu kita malah marah-marah?”

 

“Maksudmu?”

 

“Istri saya kan resah menunggu saya pulang hingga larut. Kemudian karena resah, cemas, dan sewot, maka di
pikirannya tergambar hal-hal yang mengada-ada, yang di karang-karang sendiri,
ditipu oleh perasaannya dan percaya, misalnya kalau orang pulang telat berarti
ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi karena pekerjaan belum selesai, bisa jadi ngelayap kemana-mana, atau jangan-jangan
kecelakaan di jalan, jangan-jangan dirampok terus dibunuh, di iris-iris, di
mutilasi dan sebagainya. Dan sepertinya yang negatif-negatif itulah yang
dipercaya. Tapi anehnya lagi, ketika saya datang selamat, tidak kurang suatu
apapun termasuk kesetiaanku terhadap istriku tercinta itu, eee… masih
marah-marah, ngomel-ngomel. Aneh tho?

 

Oalah Man… Man…

PILONIAN 2 : Universalitas Universitas (?)

November 5th, 2007 by loveray

PILONIAN 2 : Universalitas Universitas (?)

(Ray Asmoro)

Sariman sudah melewati beberapa semester disebuah universitas yang cukup ternama. Dalam hatinya bergejolak antara dua hal; bangga dapat menikmati jenjang pendidikan tinggi yang tidak semua anak Indonesia dapat merasakannya, dan bingung setengah mampus. Kenapa bingung?

Nanti dulu. Sabar mas…

Sebelum masuk universitas itu, Sariman yang masih SMU pernah protes. Kata guru ngajinya, murid itu artinya yang berkehendak. Tapi kenyataannya sewaktu jadi murid Sariman merasa dikekang, dipasung, kemerdekaan berkehendaknya di rampas. Yang ada malah di kehendaki, harus begini-begitu, seperti ini seperti itu, sesuai kehendak udelnya guru.

Dulu saat masih menjadi murid TK, ia ingat betul. Bu guru menyuruhnya menggambar pemandangan, dan Sariman menggambar pemandangan, tapi disalahkan oleh bu guru dan dapat nilai 4. Sariman jadi bingung. Dengan sedikit rasa takut ia beranikan diri bertanya kepada Bu Guru, kenapa gambarnya dibilang jelek dan dapat nilai 4 sementara teman-temannya yang lain dapat 8 atau 9. Ketika Sariman bertanya hal itu, Bu Guru malah marah, “Sariman kamu ini ya bandelnya minta ampyuuun… Bu Guru kan minta kamu gambar pemandangan, kenapa kamu malah menggambar sepasang sandal? Pemandangan itu ada gunungnya dua, ada jalanannya, ada mataharinya, ada sawahnya, ada lautnya, ada awannya… Dasar pilon”

Dibilang begitu, Sariman diam saja, walaupun dalam hatinya ingin berontak. Ini kan namanya pembodohan struktural. Orang sekolah itu kan belajar untuk menjadi lebih pinter dan bukan belajar menjadi pilon! Apa tidak pilon namanya kalau semua orang diharuskan berpikir dan berpandangan yang seragam, ide harus seragam, apa namanya kalau bukan pembodohan alias pilon? Pemandangan itu kan segala sesuatu yang dapat dipandang oleh mata. Ketika itu Sariman memvisualisasikan sepasang sandal, ya itulah pemandangan menurut gagasan pikiran Sariman saat itu. lalu digambarlah sepasang sandal itu. Kalau besoknya disuruh menggambar pemandangan lagi, bisa jadi Sariman akan menorehkan gagasan-gagasan pemandangan yang lain yang tervisualisasikan dalam pikirannya saat itu. Bisa jadi ia akan menggambar tikus atau superman terbang diatas kota atau malah gambar betisnya bu guru yang seperti tales Bogor itu.

Inilah yang dimaksud Sariman dengan hilangnya kebebasan berkehendak. Mustinya pada pendidik itu juga belajar filsafat pendidikan, biar ngerti makna filosofi apa itu murid, apa itu murad, apa itu pendidik, apa itu kebebasan berkehendak, apa itu kreatifitas berpikir dan sebagainya. Nah begitu juga yang terjadi di perguruan tinggi, di universitas dimana Sariman menimba ilmu. Dalam hati ia misuh-misuh. Diamput!

Lihat saja betapa mahasiswa-mahasiswa ini hanya dijadikan sebagai komoditi. Di iming-imingi ilmu semu yang diharapkan dapat menciptakan masa depan cerah dikemudian hari, mendapatkan kerjaan enak di kota, gaji besar, orang kantoran, berdasi dengan sepatu mengkilap, di hormati tetangga, kalau pulang kampung disanjung-sanjung. Cuihhh!

Santai Man… Jangan emosional begitu… (Maaf, Sariman kita ini kadang suka emosional dan kaku untuk beberapa hal). Ambil napas Man… Kendurkan urat-urat syaraf… Jangan tegang begitu…

Menurut saya, mmm… (berpikir sejenak) Sariman ada benarnya juga. Dari buku yang saya baca, katanya universitas itu kan berasal dari kata universal yang artinya menyeluruh, global, luas, tidak terpetak-petak. Sehingga universitas itu seharusnya mengajak mahasiswanya menjadi manusia yang universal, jangan lantas mengajarkan mereka untuk bersikap, berperilaku, berpandangan dan berpikir parsial. Tapi itu kan bukan hanya tanggungjawab pengurus universitas, produk kebijakan pemerintah dulu seperti NKK/BKK itu kan juga salah satu indikasi bahwa memang tidak ada ruang universalitas dalam universitas kita.

Terus siapa yang pilon dalam hal ini? Entahlah. Dan sangat mungkin sayalah yang pilon.

Lha kalau kemudian ada mahasiswa akuntansi misalnya, mau mengadakan kegiatan kebudayaan atau kesenian ya jangan ditentang. Kalau ada mahasiswa ilmu politik misalnya, mengadakan kegiatan lomba tanjidor atau nasyid ya dukunglah. Kalau ada mahasiswa teknik misalnya, mengadakan kegiatan sunatan massal, ya berilah ruang. Biar teman-teman mahasiswa itu mengukur nilai universalitas dalam dirinya sendiri menurut caranya, asal tidak melanggar norma-norma etik yang berlaku. Beres.

Coba bayangkan, mahasiswa akuntansi misalnya, setiap hari dijejali oleh kertas-kertas kerja akuntasi, dicekoki pikiran-pikiran ekonomi kapitalistik dan teori-teori ekonomi yang fokusnya hanya profit semata. Sementara pemerintah juga lembaga universitas itu tidak pernah menjamin mahasiswanya akan menjadi akuntan atau ekonom. Kalau mereka lulus nanti dan kembali ke masyarakat mereka akan tergagap-gagap, karena tidak memiliki kelenturan, fleksibilitas, dan kelembutan. Dan ketika salah satu atau salah banyak dari mereka mendapat kesempatan menjadi pejabat Negara, atau direktur perusahaan, pastinya mereka akan cenderung melakukan segala macam cara untuk profit baik itu dalam konteks keuntungan individu maupun golongan. Kan cilaka.

Tetapi saya juga tidak bilang bahwa Sariman sepenuhnya benar. Mahasiswa yang rata-rata masih muda dan sangat trengginas (kalau tidak boleh disebut emosional), juga tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa-mahasiswa kita sekarang ini pada melempem seperti krupuk dalam toples yang lupa ditutup beberapa hari. (Mendengar itu Sariman angkat tangan, mau interupsi)

Sabar Man… Ya memang tidak semua mahasiswa melempem. Ada yang luar biasa wawasan, paradigma, serta retorikanya. Tapi buuuanyak juga yang ndlahom. Coba deh Tanya beberapa teman mahasiswa, apa motivasi mereka kuliah. Pasti kebanyakan diantara mereka akan menjawab, “Agar nanti lebih mudah dapat pekerjaan”, “Biar nanti bisa menjadi orang sukses” atau malah ada yang bilang “Biar keren, coy..!” lebih parah lagi ada yang jawab “Biar dapat jodoh”.

Weleh, weleh, weleh… Maaf ya Man, bukannya saya mau menggurui. Saya hanya mau sharing saja. Kuliah di universitas tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, sukses, keren-kerenan, atau jodoh. Memang banyak yang setelah lulus (malah ada yang belum lulus) terus ditawari pekerjaan yang oke, ada yang setelah lulus terus berwiraswasta dan sukses. Tapi itu prosentasenya kecil sekali Man, mayoritas setelah lulus teman-teman kita itu lantas bingung, dulunya aja keren berstatus mahasiswa, begitu lulus kerjaannya hanya nongkrong, atau melototin lowongan kerja di Koran.

Ada yang dapat jodoh begitu lulus dan menikah bingung mencukupi kebutuhan rumahtangganya. Kalau sudah begitu terus menyalah-nyalahkan keadaan. Karena universitasnyalah yang nggak bener, karena pemerintahlah yang nggak bisa beri kesempatan kerja, karena inilah, itulah, cape’ deh…

Dulu ngapain aja sewaktu kuliah? Melakukan banyak hal tidak? Belajar banyak hal tidak? Dasar pilon!

Saya bukannya terus merekomendasikan bahwa tidak ada gunanya kuliah. Kuliah itu sangat penting. Tapi lebih penting temen-temen mahasiswa itu juga harus merubah paradigma berpikirnya, dari yang fakultatif menuju yang universal. Jadi bukan salah universitas jika lulusannya tidak diterima kerja, karena universitas tidak mencetak pekerja, tugasnya adalah membangun manusia utama yang memiliki pemikiran, sikap, tindakan dan kesadaran yang universal.

(www.rayasmoro.blogspot.com)

PILONIAN 5 : Penyesalan Tiada Berguna (?)

November 1st, 2007 by loveray

PILONIAN (5) : Penyesalan Tiada Berguna (?)

Oleh : Ray Asmoro

Banyak orang, kyai, pendeta, ustadz, biku, psikolog, trainer, motivator, coach, yang mengatakan “apa yang telah terjadi, jangan di sesali”.

Sariman menemukan keganjilan dalam pernyataan itu. Benarkah kita tidak perlu menyesal? Benarkah penyesalan itu tiada berguna? Benarkah?

Ada gadis remaja yang di tinggal pacarnya. Lantas ia menyesal, mengapa orang yang begitu di cintai meninggalkannya padahal segala bentuk perhatian dan saying telah di curahkannya. Saat ia curhat pada orang lain, ia di nasehati “Yang sudah ya sudah, ndak perlu disesali…Penyesalan dan airmata tiada berguna…”, katanya.

Seorang businessman datang kepada konsultannya, ia membeberkan kerugian investasinya. Gara-garanya adalah ia salah membaca situasi dan terbujuk oleh rayuan manis seseorang culas yang ingin memanfaatkannya. Apa yang dikatakan konsultannya kemudian? “Bapak, yang terjadi tidak bisa di tarik kembali, jadi buat apa di sesali?…”

Seorang bapak separuh baya datang ke psikiater, ia menumpahkan seluruh problematika keluarganya. Sambil sesenggukan ia bercerita bahwa hubungannya dengan istrinya sedang dilanda badai prahara. Istrinya ada “main” dengan pria lain. Anak-anak dirumah jadi tidak terurus. Tapi dialah yang mengawali semuanya, ketika ia mulai sering tidak pulang dengan bermacam-macam alasan. Istri dan anak tidak diperhatikan lagi, malah sibuk membuat jadwal “lembur” dengan sekretarisnya. Kini sekretarisnya hamil dan menuntut pertanggungjawabannya, bla-bla-bla… Sambil memberikan selembar tisu, psikiater itu menasehati “Apakah bapak, bisa merubah segala sesuatu yang sudah terjadi? Jika menurut bapak itu tidak mungkin, mengapa harus menyesal, karena itu tidak akan merubah apapun…”

Ada remaja SMU yang tidak naik kelas. Kemudian ia curhat kepada teman karibnya. “Jack, gue malu nggak naik kelas. Orang tua gue pasti juga malu. Nyesel gue. Kenapa dulu gue males belajar ya…” terus kemudian karibnya menasehati, “Penyesalan itu selalu datang di kemudian hari Bro, dan itu tidak lantas merubah keadaan… Sudahlah Bro terima saja kenyataannya, nggak perlu disesali…”

Satu lagi. Seorang pria muda resah lantaran ia di PHK dari perusahaan tempat selama ini ia bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sebab musababnya, ia menggerakkan aksi demonstrasi, menuntut kenaikan gaji 30%. Padahal kinerja dia standar aja, dan perusahaan belum mampu memenuhi tuntutannya. Maka perusahaan mem-PHKnya dan meng-hire orang baru untuk menggantikan posisinya. Walaupun ia dapat pesangon tapi ia tetap merasa rugi. Pesangon yang diterima mungkin akan habis dalam waktu 4 sampai 6 bulan, setelah itu?

Hmmm, itulah yang membuatnya resah. Pekerjaan baru belum juga di dapat, mau usaha sendiri tidak punya cukup nyali, mau protes ke perusahaan… Apa haknya? Perusahaan telah memberikan haknya. Seandainya dulu ia tidak menggerakkan aksi demontrasi, pasti sekarang ia masih bekerja, punya status, dan untung-untung perusahaan mau mempromosikannya karena ia tergolong karyawan yang cukup senior, begitu pikirnya.

Dalam duka resahnya itu, ia datang kepada seorang ustadz di lingkungan rumahnya. Setelah ia ceritakan semua detil kejadiannya, si ustadz menasehati dengan nasehat standar, “Mas, hidup ini bagaikan roda yang berputar, kadang dibawah, kadang diatas. Saat diatas kita tidak boleh semena-mena, saat dibawah kita harus sabar… Orang sabar itu di sayang Tuhan. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, jadi mas tidak perlu menyesalinya, hadapi saja realitanya, ingat lho mas, Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar…”

Sabar, sabar, dengkulmu ambles!, kata Sariman. Bagaimana bisa bersabar, sementara kita dikejar-kejar oleh keharusan pemenuhan kebutuhan. Bersabar seperti apa, jika anak-anak kita menangis teriak-teriak karena lapar dan istri kita terisak-isak karena tidak ada sejumput beraspun yang bisa di masak.

Sabar itu perlu. Sabar itu adalah bentuk pengkondisian bathin menuju ketenangan, sehingga kita tidak kemrungsung. Dengan bersabar, bathin tenang, pikiran lebih jernih, sehingga bisa menentukan langkah-langkah selanjutnya. Jadi nasehat “sabar” itu benar, tapi itu masih koma. Seharusnya di jelaskan kenapa harus sabar, bagaimana bersabar itu, efeknya apa, daya letupnya sebesar apa, itu tidak pernah di nasehatkan. Ini yang kadang-kadang terdengar pilon. Maka ya jangan salahkan jika orang mempersepsikan “sabar” itu sebagai sesuatu yang pasif dan defensif. Padahal tidak sama sekali.

Orang sabar, bukan lantas diam menerima keadaan, tapi ia melakukan aktifasi sistem inderawi untuk menata kembali pola kesadaran. Cara dan mekanismenya bisa dengan berbagai cara. Tetapi sabar yang seperti itupun juga belum cukup. Tidak akan memiliki daya letup apapun. Ketika bathin sudah menjadi tenang, pola kesadaran telah berjalan secara ritmis, pikiran menjadi lebih jernih, maka kita akan menemukan jawabannya. Hanya dibutuhkan nyali untuk bertindak untuk merubah keadaan itu. Sudah bersabar, sudah tenang, sudah menemukan jalan keluarnya, tapi tidak mau action, ya pilon namanya.

Kembali soal “penyesalan”, kata Sariman. Benarkah penyesalan itu tiada berguna?

Sariman geleng-geleng, “Dasar pilon!”. Penyesalan itu justru penting. Penyesalan itu adalah sebuah akibat dari sebuah sebab. Akibat yang tidak sesuai dengan kehendak itulah yang mendatangkan penyesalan. Artinya, jika akibat yang yang ada tidak seperti yang di kehendaki, berarti ada yang salah pada sisi sebabnya. Maka penyesalan itu datangnya selalu belakangan, lantaran ia hanya akibat. Karena ada yang salah pada sisi sebabnya, maka penyesalan itu menjadi penting.

Penyesalan itu sebuah kondisi dimana seseorang telah menyadari kekeliruannya. Telah menemukan bottle neck nya. Menginsyafi bahwa apa yang telah dilakukannya salah dan merugikan dirinya. Ketika kita dilarang menyesali keadaan, maka sama artinya kita dilarang menginsyafi dan menyadari kesalahan-kesalahan kita. Pilon tidak?

Koruptor-koruptor kita, maling-maling, bandar narkoba, yang telah keluar dari penjara akan tetap melakukan korupsi, akan terus mencuri, akan terus mengedarkan narkoba, karena sebuah paradigma “penyesalan tiada berguna”. Mereka mau menyesal, mau menginsyafi bahwa yang dilakukannya adalah salah besar, tapi kita malah menasehati “yang sudah-ya sudah, tidak usah di sesali”. Dasar Pilon!

Seharusnya kita berikan ruang penyesalan itu. Taubat atau pertobatan itu tidak akan terjadi jika tidak diawali dengan sebuah penyesalan, bukan? Karena ia sadar bahwa ia berbuat salah, karena ia menginsyafi bahwa ia telah men-dzalimi banyak orang, dan itu semua merugikan diri sendiri dan banyak orang, maka ia menyesal dan bertobat serta tidak akan melakukannya lagi. Begitu kan urut-urutannya? Karena itulah “penyesalan” itu adalah pintu menuju pertobatan”, kata Sariman.

Jadi mungkin saja itulah penyebabnya mengapa koruptor tetap setia menjadi koruptor, pemimpin mencederai amanatnya, bangsa menjadi kerdil dan tak berdaya memberikan rasa aman, tentram, dan kebanggaan, nasionalisme menciut, ekonomi kita di setir oleh kekuatan asing, westernisasi dianggap bahaya tapi tidak terbendung, masyarakat bingung di ping-pong oleh permainan politik, kerumunan massa di jalanan semakin penuh menuntut hak-haknya, Lumpur di Sidoarjo dijadikan komoditas politik, semua itu karena kita tidak pernah sadar oleh apa yang telah kita lakukan, tidak pernah belajar dari kesalahan, tidak pernah kapok oleh hukuman, tidak jera oleh pengalaman pahit, dan itu semua lantaran kita selalu merasa benar sendiri tanpa pernah ada sedikitpun penyesalan sehingga pintu pertobatan selalu terkunci rapat.

Lantas siapa yang pilon?

Yang pilon adalah kita yang selalu mengajarkan bahwa “penyesalah itu tiada berguna”.

Sesalilah…

Jakarta, 3 Sept 2007

www.rayasmoro.blogsot.com

PILONIAN 8 : Matematika Sedekah

November 1st, 2007 by loveray

PILONIAN (8) : Matematika Sedekah

Oleh Ray Asmoro

Dalam harta kita terdapat hak-hak orang miskin dan kaum dhuafa. Begitulah firman Tuhan, fatwa Rasul, dan peringatan para kyai dan ustadz. Indah sekali. Kita diajarkan untuk care terhadap sesama, saling tolong-menolong dan berbagi. Yang kuat mengangkat yang lemah dan bukan sebaliknya, yang kuat menginjak-injak dan menistakan yang lemah.

Sayangnya manusia (lebih-lebih saya) memiliki kecenderungan untuk tamak, aku Sariman. Maunya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, jika mungkin seluruh isi jagad raya ini bisa dimilikinya, bahkan tuhan pun ingin di belinya. Subhanallah…

Sedekah (shodaqoh) adalah sebuah bentuk tindakan (amal) dimana seseorang menyisihkan sebagian “hartanya” untuk kemaslahatan. Dalam syari’at, ada kalkulasi matematik, seberapa besar yang wajib kita sedekahkan. Seperti juga halnya zakat atau warisan, semua ada kalkulasi matematiknya. Di sisi lain, kata Sariman, sedekah ini adalah sebuah manifestasi dari rasa syukur atas limpahan rizki dari Tuhan.

Ada

pembelajaran yang sangat agung disini. Ketika kita sedang di lapangkan rizkinya, kita wajib berbagi kegembiraan itu. Ketika kita di beri kesuksesan, hmmm… kira-kira enak apa nggak sih jika kita sukses sendirian?

Analoginya mungki seperti ini. Andaikata anda naik gunung sendirian, berjuang mendaki sendirian, hingga di puncak gunung tidak ada satupun manusia, maka senikmat apa yang bisa anda rasakan ketika melihat pemandangan indah dari puncak gunung itu? Tentu saja akan lebih nikmat jika ada teman berbagi, bukan? Sebab itulah orang mendaki gunung tidak sendirian. Jikalau ada yang sendirian, hmmm… bisa jadi dia sedang pilon, linglung, stress, putus asa, atau mau bunuh diri. Artinya, tidak dengan perasaan suka-cita dan ikhlas.

Banyak saudara-saudara kita yang begitu ambisius menaiki tangga karir. It’s OK, ambisi itu tidak haram kok. Hanya saja banyak yang saking ambisiusnya, terus lupa dan tidak peduli pada teman sejawat dan lingkungannya. Apa saja dilakukan, segala cara di halalkan demi sebuah ambisi, demi sebuah gengsi. Komunikasi horisontal yang hangat dan mesra di abaikan, hubungan mutual tidak di bangun, ego berkuasa dan bertahta dalam diri. Hatinya tertutup tirai ketamakan. Kemudian yang dilakukan ya menjilat dan menjilat. “Mencari muka”. Ini yang pilon. Mencari muka kok didepan atasan, kenapa tidak “mencari-muka” di hadapan Tuhan? Dalam konteks politik kekuasaan, juga demikian. Jika anda wahai penguasa, ingin “mencari-muka” dihadapan Tuhan, anda harus dengar suara rakyatmu. Bukankah suara rakyat itu suara Tuhan?

Ketika ambisi tergapai, kekayaan bertumpuk, gengsi telah terbeli, puncak karir dan kekuasaan telah dipijak, sementara komunikasi dan hubungan interpersonal tidak di bangun, cuek pada tetangga, maka kita tentu saja bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi. Materi telah membutakan mata hatinya, kekuasaan telah menguburkan kesalehan sosialnya, gengsi telah memenjarakannya dalam kesunyian. Ini yang seringkali terjadi. (Makanya kalau mau sukses, ajak-ajak yang lain, biar nggak kesepian…)

Itulah makna sedekah. Ia mengajarkan kita untuk berbagi. Jika itu dilakukan secara ikhlah sebagai manifestasi rasa syukur mendalam, maka Tuhan akan menambah nikmatmu dengan berlipat-lipat. Jadi kalau ente mau rizki berlipat-lipat itu mudah coy! Lipat-gandakan sedekah ente. Itulah matematika sedekah.

Dalam ilmu matetamatika konvensional jika 10 dikurangi 2 maka hasilnya tinggal 8. Tapi dalam matematika sedekah, 10 harta kita, kita ambil 2 untuk di sedekahkan secara ikhlas maka (percaya atau tidak), hasilnya bisa 14, 20, atau bahkan tak terhingga. Tuhan sendiri kok yang menjanjikan. Wallahua’lam.

Kita semua yang beragama pasti mahfum soal itu. Hanya entah mengapa kita suka pura-pura lupa, pura-pura tidak tau, belagak pilon. Ingin rizki berlipat-lipat tapi ogah bersedekah. Ingin hidup sejahtera tapi enggan mensyukuri nikmat. Yang lebih pilon, banyak diantara kita (lebih-lebih saya, Masya Allah…) yang berat hati dan kalaupun mau bersedekah itu pun hanya seminimal-minimalnya. Contoh konkret, kalau kita punya selembar uang 10.000an dan selembar uang 1.000an, maka kalaupun kita mau sedekah pasti yang 1.000an lah yang kita sedekahkan. Kalau kita punya dua lembar 100.000an dan selembar 1.000an, maka kalaupun kita mau sedekah, jujur sajalah, kira-kira yang kita berikan selembar 100.000an atau selembar 1.000an? (Saya tebak, selembar 1.000an lah pilihannya, itupun meberikannya dengan tangan kiri, dengan sedikit ngedumel tapi setelahnya kita cerita-ceritakan dengan bangga di tetangga-tetangga kita. Dasar pilon!).

Kalau saja anda punya 5 lembar 100.000an dan dua lembar 10.000an, maka kalau pun anda mau sedekah, apakah anda akan berikan dua lembar 10.000an? Saya yakin, tidak. Saya yakin anda hanya akan memberikan selembar 10.000an. Hmmm… ya tidak? Kenapa tidak selembar 100.000an? (Anda sendiri yang tahu jawabannya). Itulah anehnya. Yang recehan lah prioritas sedekah kita. Tapi jika untuk sebuah jabatan atau kekuasaan, ratusan milyar pun di keluarkan. (Konon, itu sudah menjadi rahasia umum dalam politik kita dalam pemilu, pilkada ataupun jabatan strategis-politis lainnya).

Begitulah, kata Sariman. Mental kita ini memang mental recehan. Dan pilon-nya, kita justru bangga dengan recehan. Ampuuun Di-Je…

Jakarta

,

10 September 2007

www.rayasmoro.blogspot.com